Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Juni 2014
On 02.23 by Unknown in Renungan No comments
Retorika kehidupan manusia sungguh variatif dan beraneka ragam. Mereka berusaha untuk memancarkan nilai-nilai dasar keyakinan yang dianutinya. Panutan yang dilakukan sekelompok manusia akan dikembangkan oleh mahasiswa sebagai tulang punggung Bangsa. Salah satu bentuk keyakinan, dibuktikan dengan cara memasuki organisasi.
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sebuah organisasi islam mahasiswa ternama yang bergerak pada nilai-nilai dasar keislaman. Pergerakan yang dilakukan oleh mahasiwa islam berlandasan Nahdliyyin. Yang merupakan panjang tangan dari organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU), yang berideologi Ahlussunah Wal Jama’ah.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dikenal dengan jargon Kampus Ulul Albab memilki arti Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh. Hal itupun serupa dengan anutan yang dimilki oleh sahabat-sahabat PMII.
PMII Rayon “Perjuangan” Ibnu Aqil, Fakultas Humaniora, menggelar acara tahunan yang dinanti-nantikan. Kegiatan Mapaba (Masa Penerimaan Mahasiswa Baru) Jilid II ini, merupakan pengganti kegiatan mapaba jilid I, bagi siapa yang tidak ikut. Acara ini yang dikomandoi oleh Sahabat Umar berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali, walau masih ada aja peserta yang belum bayar semua hehehe. Namun yang terpenting dengan mapaba jilid II ini saya berharap peserta mampu optimal dalam berproses di PMII hingga akhir nanti. Ungkap mahasiswa semester 3 bahasa dan Sastra Arab itu.
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) sebuah organisasi islam mahasiswa ternama yang bergerak pada nilai-nilai dasar keislaman. Pergerakan yang dilakukan oleh mahasiwa islam berlandasan Nahdliyyin. Yang merupakan panjang tangan dari organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU), yang berideologi Ahlussunah Wal Jama’ah.
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, dikenal dengan jargon Kampus Ulul Albab memilki arti Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh. Hal itupun serupa dengan anutan yang dimilki oleh sahabat-sahabat PMII.
PMII Rayon “Perjuangan” Ibnu Aqil, Fakultas Humaniora, menggelar acara tahunan yang dinanti-nantikan. Kegiatan Mapaba (Masa Penerimaan Mahasiswa Baru) Jilid II ini, merupakan pengganti kegiatan mapaba jilid I, bagi siapa yang tidak ikut. Acara ini yang dikomandoi oleh Sahabat Umar berjalan dengan lancar, aman, dan terkendali, walau masih ada aja peserta yang belum bayar semua hehehe. Namun yang terpenting dengan mapaba jilid II ini saya berharap peserta mampu optimal dalam berproses di PMII hingga akhir nanti. Ungkap mahasiswa semester 3 bahasa dan Sastra Arab itu.
Rabu, 11 Juni 2014
“Menunggu bus nak?” Tanya seorang bapak-bapak kembali menyadarkanku dalam lamunan. Aku hanya mengangguk. Ku tatap wajah lelaki yang tadi membuat lamunanku berlari menjauh. Tampak kerutan-kerutan diwajahnya. Tubuhnya yang tinggi kurus itu menenteng sebuah karung putih. Entah apa isinya. Berhasil membuatku penasaran, tapi aku malu menanyakannya. Diusapnya beberapa kali peluh yang menetes diwajahnya dengan sapu tangan lusuh bertuliskan Indonesia. Mungkin karena rasa cintanya terhadap Negara ini yang terlalu dalam.
“Bapak mau kemana?” tanyaku membuka percakapan.
“Ke pasar wlingi nak, oya panggil saja saya pak Rahmat.”
“iya pak, saya Tina pak. Sepertinya kita searah pak.”
“Nak Tina mau ke wlingi juga?”
“Iya pak ke rumah saudara. Bapak ada perlu apa ke pasar wlingi?”
“Ini nak mengantarkan pesanan singkong.” Diperlihatkannya umbi singkong yang masih berbau tanah itu padaku.
“Wah jauh sekali pak dari kepanjen ke wlingi. Kenapa tidak di jual di pasar kepanjen saja pak?”
“Iya biasanya dijual disana nak, tapi karena kemaren pembelinya membawa barang bawaan banyak, bapak diminta mengantarkannya kesana.” Belum sempat bertanya lagi. Bus putih bertuliskan Bagong itu berhenti di depan kami. Kutuntun pak Rahmat. Kuraih karung putih yang dibawanya. Bekas merah bertengger di jemariku.
“Jangan nak berat” kata pak Rahmat tertelan bising mesin bus. Aku hanya tersenyum mendengar samar tuturnya. “Ternyata berat juga” batinku. Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bertanya tentang kisahnya dan bertanya tentang keluarganya. Beruntung masih ada dua kursi kosong untuk aku dan pak Rahmat. Kami duduk bersebelahan. Ku tahan beribu Tanya yang berkecamuk. Ku biarkan pak Rahmat menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi bus.
“Bapak mau kemana?” tanyaku membuka percakapan.
“Ke pasar wlingi nak, oya panggil saja saya pak Rahmat.”
“iya pak, saya Tina pak. Sepertinya kita searah pak.”
“Nak Tina mau ke wlingi juga?”
“Iya pak ke rumah saudara. Bapak ada perlu apa ke pasar wlingi?”
“Ini nak mengantarkan pesanan singkong.” Diperlihatkannya umbi singkong yang masih berbau tanah itu padaku.
“Wah jauh sekali pak dari kepanjen ke wlingi. Kenapa tidak di jual di pasar kepanjen saja pak?”
“Iya biasanya dijual disana nak, tapi karena kemaren pembelinya membawa barang bawaan banyak, bapak diminta mengantarkannya kesana.” Belum sempat bertanya lagi. Bus putih bertuliskan Bagong itu berhenti di depan kami. Kutuntun pak Rahmat. Kuraih karung putih yang dibawanya. Bekas merah bertengger di jemariku.
“Jangan nak berat” kata pak Rahmat tertelan bising mesin bus. Aku hanya tersenyum mendengar samar tuturnya. “Ternyata berat juga” batinku. Aku ingin bertanya banyak hal padanya. Bertanya tentang kisahnya dan bertanya tentang keluarganya. Beruntung masih ada dua kursi kosong untuk aku dan pak Rahmat. Kami duduk bersebelahan. Ku tahan beribu Tanya yang berkecamuk. Ku biarkan pak Rahmat menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi bus.
Rabu, 04 Juni 2014
“Ilmu-ilmu
yg kita pelajari sebagai alat pembebas
atau alat penindas…” – Ws Rendra
Tak jarang kita mendengar adagium yang berkesan memuji status kaum terpelajar (mahasiswa) sebagai agen of change atau agen of social control dalam bagian civil society. Tak jarang pula timbul pertanyaan kenapa harus Mahasiswa? Bukan kiai, rektor, atau tokoh cendekiawan yang lainya.
Dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia, kaum terpelajar (mahasiswa) telah memosisikan dirinya sebagai garda terdepan mengawal sang proklamator. Sampai detik-detik deklarasi kemerdekaan dikumandangkan, telah banyak sumbangsih mahasiswa bagi bangsa Indonesia. Di setiap masa mahasiswa selalu ikut serta mengambil peran penting dalam masa itu, sehingga kontribusinya tak bisa dipungkiri lagi oleh sejarah.
Mahasiswa selalu percaya akan cita-cita yang mereka anggap kebenaran bagi mereka itulah yang biasa kita sebut sebagai Idealisme. Kaum terpelajar tidak mudah terombang ambing oleh keadaan sosial yang dihegemoni oleh kaum penguasa. Mereka dengan tegas mengatakan benar kalo itu benar, dan dengan lantang mengatakan salah apabila itu salah, karena mereka mempunyai idealisme yang tidak bisa diperjual belikan.
Tentu kita masih ingat aksi terbesar kaum terpelajar era ’86 dan TRISAKTI era ’98, momen yang mewarnai sejarah lengsernya president pertama kali Ir. Soekarno dan sang diktator Soeharto yang melibatkan kaum mahasiswa bergerilya menjatuhkan dua rezim kepemerintahan sekaligus. Semuanya tidak akan terjadi tanpa didasari idealisme yang kuat.
Di era reformasi kini berbicara tentang idealisme adalah hal yang tabu. Tak heran bila para kaum intelektual ketika menjadi pemimpin tidak dapat mengemban amanah dengan benar.
krisis pemimpin ini sangat berimbas pada merosotnya nilai militansi kaum reformis. Kehidupan mahasiswa yang serba hedonis menjadi penyebab utama hilangnya identitas mahasiswa beserta idealismenya.
Tak jarang kita mendengar adagium yang berkesan memuji status kaum terpelajar (mahasiswa) sebagai agen of change atau agen of social control dalam bagian civil society. Tak jarang pula timbul pertanyaan kenapa harus Mahasiswa? Bukan kiai, rektor, atau tokoh cendekiawan yang lainya.
Dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia, kaum terpelajar (mahasiswa) telah memosisikan dirinya sebagai garda terdepan mengawal sang proklamator. Sampai detik-detik deklarasi kemerdekaan dikumandangkan, telah banyak sumbangsih mahasiswa bagi bangsa Indonesia. Di setiap masa mahasiswa selalu ikut serta mengambil peran penting dalam masa itu, sehingga kontribusinya tak bisa dipungkiri lagi oleh sejarah.
Mahasiswa selalu percaya akan cita-cita yang mereka anggap kebenaran bagi mereka itulah yang biasa kita sebut sebagai Idealisme. Kaum terpelajar tidak mudah terombang ambing oleh keadaan sosial yang dihegemoni oleh kaum penguasa. Mereka dengan tegas mengatakan benar kalo itu benar, dan dengan lantang mengatakan salah apabila itu salah, karena mereka mempunyai idealisme yang tidak bisa diperjual belikan.
Tentu kita masih ingat aksi terbesar kaum terpelajar era ’86 dan TRISAKTI era ’98, momen yang mewarnai sejarah lengsernya president pertama kali Ir. Soekarno dan sang diktator Soeharto yang melibatkan kaum mahasiswa bergerilya menjatuhkan dua rezim kepemerintahan sekaligus. Semuanya tidak akan terjadi tanpa didasari idealisme yang kuat.
Di era reformasi kini berbicara tentang idealisme adalah hal yang tabu. Tak heran bila para kaum intelektual ketika menjadi pemimpin tidak dapat mengemban amanah dengan benar.
krisis pemimpin ini sangat berimbas pada merosotnya nilai militansi kaum reformis. Kehidupan mahasiswa yang serba hedonis menjadi penyebab utama hilangnya identitas mahasiswa beserta idealismenya.
Kamis, 04 Oktober 2012
On 13.10 by Unknown in Renungan No comments
oleh: Diana Manzila*
Suatu statement
pernah terucap dari seorang dengan laqob sebagai gerbang dari Ilmu pengetahuan,
Ali bin Abi Tholib ra. “ما الغنى ال العقل
وما الفقر الا الجهل” (Tiada dikatakan
kaya seseorang kecuali keintelektualitasan yang di fungsikan, dan tiada
kefakiran kecuali bagi orang-orang yang bodoh). Kiranya dari pesan singkat itu menyiratkan,
jikalau banyaknya interpretasi dari kata “kaya” itu sendiri, hingga bapak dari
Husain ra. ini memberi pengkhususan untuk seorang yang bisa dianggap kaya.
Terlebih sejarah mencatat, sejak zaman jahiliyah, kata “kaya” hanya sangat dekat
dengan hal yang bersifat materi. Di masa Kekasih Tuhan, Muhammad,
masih menjadi sumber jawaban dari berbagai persoalan yang timbul, dinar telah menjadi hal yang urgen, memiliki nilai tawar tinggi, menjadi
iming-iming jitu bagi para munafiqin untuk menjual iman mereka. Meski tak
pelak, suatu yang bersifat logistic (harta
benda)tersebut memang dibutuhkan sebagai tunggangan hidup. Namun berkali-kali kanjeng
Nabi telah menegaskan segala fitnah dunia bermuara dari harta, jika manusia menjadikan
tahta sebagai tujuan, wanita sebagai objek seksual. Hal tersebut terlihat dari
sikap Nabi, saat peristiwa فتح المكة , beliau tidak membagi
ghonimah pada mukminin yang ikut menaklukkan kota suci tersebut, justru Nabi
meng-hibahkannya pada pemeluk Islam baru seperti Abu Sufyan, Hindun dan banyak
pemukim setempat. Sahabat Umar bin Khattob bertanya pada Nabi “Wahai Kekasih
Allah, kenapa kau tidak membaginya dengan para prajurit yang turut berjuang
dalam penakhlukan kota ini?”, jawab Nabi lugas, “Manakah yang lebih kau pilih
Umar, Cintaku atau harta berlimpah ini?”. Seketika dengan jawaban Nabi,
sahabat yang kelak menjadi amirul mukminin ini menangis, dan menyesali pertanyaannya pada Beliau.
sahabat yang kelak menjadi amirul mukminin ini menangis, dan menyesali pertanyaannya pada Beliau.
Cerita di atas adalah analog ringan, sebuah pilihan bagi
setiap manusia untuk hanya memilih satu,
kecintaan pada tuhan atau ciptaan tuhan (Dunia). Karena Tuhan kita Maha
Pencemburu maka makhluk paripurna bernama Manusia hanya bisa memilih
salah satu kedekatan kepada Tuhan atau kedekatan pada harta. Pilihan ini terbukti
telah dilakukan Manusia sempurna; Muhammad melalui do’a nya; اللهم احيىنى مسكيىنا و امتنى مسكيىنا
واحشرنى فى زمرة المساكيىن “Tuhan, jadikan kehidupanku sebagai orang
miskin dan mati dalam keadaan miskin, dan giringlah aku dengan golongan orang
miskin” Kiranya dapat menjadi gambaran, kehidupan manakah yang dapat mendekatkan
kita pada sang pencipta, kehidupan seperti apa juga yang lebih disukai sang
Maha Dimaha. Dan literature pun telah mencatat, jikalau Nabi Umat Islam ini hampir tidak
pernah kaya. Sejenak ketika beliau masih beristrikan Khadijah al-Kubro, namun
selang beberapa waktu semua harta disumbangkan pada kepentingan bersama, dalam
hal ini perjuangan syiar Nabi kala itu.
Senin, 01 Oktober 2012
On 15.29 by Unknown in Renungan No comments
Apa yang terlintas di benak Anda
saat mendengar kata ‘aktivis’? Stigma
positifkah? Atau justru negatif?
Bagi mahasiswa sendiri,
penyebutan kata aktivis tidak hanya bermakna satu. Banyak yang mengelu-elukan
sebutan tersebut sebagai suatu kebanggaan dan predikat yang dianggap berkelas, namun
tidak sedikit juga yang justru mencibirkan bibir saat mendengarnya. Apa pasal?
Ternyata kini paradigma telah bergeser. Mereka yang mendapat sebutan aktivis
dan aktif di organisasi, tidak lagi semuanya dapat disejajarkan dengan adagium
mahasiswa, agent of change atau agen perubahan. Banyak yang masuk
organisasi dengan alasan-alasan lain yang dapat menimbulkan apriori negatif
bagi aktivis lainnya. Aktif organisasi karena ingin mendapat popularitas, misalnya.
Atau karena ingin menduduki sebuah jabatan tertentu, bukan merupakan hal yang
mustahil. Justru inilah yang kini ramai diperbincangkan. Akhirnya, yang paling
dirugikan adalah predikat ‘aktivis’ itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
Search
Arsip Blog
Terpopuler
-
Oleh: Mahalasari * ABDURRAHMAN WAHID atau yang lebih dikenal dengan sebutan Gus Dur merupakan keturunan darah biru. Ayahnya yang ...
-
Oleh R Fikri Abdillah* Kata Buruh sudah sangat akrab di telinga kita. Buruh menjadi bagian tak terelakkan dalam kehidupan manusia...
-
“Ilmu-ilmu yg kita pelajari sebagai alat pembebas atau alat penindas…” – Ws Rendra Tak jarang kita mendengar adagium yang b...
-
Oleh: Muhammad Hasan* Masih tergambar jelas dalam ingatan kita isak tangis dan gema takbir jutaan orang sebagai tanda penghormatan t...
-
Baru-baru ini di berita dan berbagai media, masyarakat seperti terfokuskan perhatiannya terhadap pemberitaan tentang pengerdilan wew...
Kategori
- Cerpen
- gusdur
- Pergerakan
- Puisi
- Renungan
Mengenai Saya
Diberdayakan oleh Blogger.

